Majas Eufemisme

Majas Eufemisme adalah salah satu majas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Majas ini mungkin secara sadar atau tidak sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun, apakah kamu sudah mengetahui arti dari majas eufemisme? Jika belum, simak penjelasannya dibawah ini.

Pengertian Majas Eufemisme

Pengertian Majas Eufemisme

Kata eufemisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu “eu” yang artinya bagus dan “phemoo” yang artinya berbicara. Berarti, eufemisme adalah berbicara dengan ungkapan yang baik dan sopan.

Definisi dari majas eufemisme sendiri yaitu gaya bahasa pengganti ungkapan yang kurang baik dengan ungkapan yang lebih halus atau lebih sopan.

Umumnya majas ini digunakan saat berinteraksi dengan orang yang lebih tua atau orang yang lebih dihargai untuk memberikan kesan sopan.

Majas eufemisme tidak hanya digunakan dalam percakapan sehari-hari, namun juga digunakan pada kegiatan formal lainnya. Tujuan penggunaan majas ini adalah untuk menghormati lawan bicara agar tidak merasa direndahkan dengan penggunaan istilah yang ada.

Majas ini termasuk dalam kategori majas perbandingan, sama seperti majas similedan sinekdoke.

Contoh Majas Eufemisme

Contoh Majas Eufemisme

Agar kamu lebih paham mengenai majas ini, simak contoh majas eufemisme dan penjelasannya di bawah ini!

Contoh 1

“Masih banyak tuna wisma yang bisa kita temui di lampu merah”

Penjelasan :
Kata “tuna wisma” pada kalimat diatas memiliki makna “orang yang tidak memiliki tempat tinggal atau rumah”. Penggunaan kata tuna wisma ini akan terkesan lebih halus atau lebih sopan dibandingkan dengan bentuk kata yang sebenarnya.

Contoh 2

“Kita harus menggunakan bahasa isyarat ketika berbicara dengan orang tuna rungu

Penjelasan :
Kata “tuna rungu” pada kalimat diatas memiliki makna “orang yang tidak mendengar” atau tuli. Penggunaan kata tuna rungu ini akan terkesan lebih halus atau lebih sopan dibandingkan dengan kata “tuli”.

Contoh 3

Ade adalah seorang lulusan perguruan tinggi yang sekarang bekerja sebagai pramusaji di restoran dekat lampu merah itu

Penjelasan :
Istilah “pramusaji” pada kalimat diatas memiliki arti “pelayan rumah makan”. Istilah tersebut terkesan lebih sopan dibandingkan dengan bentuk kata yang sebenarnya.

Contoh 4

Andre Wicaksono dibebastugaskan dari PT XYZ karena menyelundupkan barang ilegal

Penjelasan :
Istilah “dibebastugaskan” pada kalimat diatas memiliki arti “dipecat”. Istilah “dibebastugaskan” terkesan lebih halus dibandingkan dengan kata “dipecat”.

Contoh 5

Rian adalah seorang tuna aksara karena sejak kecil ia tidak pernah sekolah

Penjelasan :
Kata “tuna aksara” pada kalimat diatas memiliki makna “orang yang buta huruf”. Penggunaan kata tuna aksara ini akan terkesan lebih halus atau lebih sopan dibandingkan dengan bentuk kata yang sebenarnya.

Contoh Majas Eufemisme Lainnya

  1. Seorang tuna netraitu harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. (buta)
  2. Tidak ada yang mengira bahwa gadis itu adalah penyandang tuna wicara. (tidak bisa berbicara)
  3. Dia sudah sejak kecil menjadi seorang tuna rungu. (tidak bisa mendengar)
  4. Walau hanya dengan satu kaki, tuna daksa itu tetap semangat dalam bekerja. (cacat tubuh)
  5. Pak Rojali adalah seorang tuna netra, namun beliau rajin sekali shalat berjamaah di masjid. (tidak bisa melihat)
  6. Sudah hampir 4 bulan ini aku menjadi tuna karya. (tidak memiliki pekerjaan)
  7. Sejak kecil Angga tidak pernah sekolah sehingga dia menjadi tuna aksara. (buta huruf)
  8. Noval adalah seorang tuna larassehingga ia tidak bisa bernyanyi dengan baik. (cacat suara/nada)
  9. Fika divonis tuna ganda sejak mengalami kecelakaan pada tahun. (cacat kombinasi)
  10. Budi menjadi seorang tuna rungu sejak kecelakaan pesawat yang dialaminya. (tidak bisa mendengar)
  11. Ade memang agak ketinggalan dibandingkan teman-temannya. (kurang pintar)
  12. Pak Eko termasuk keluarga dengan ekonomi kebawah. (miskin)
  13. Bagus mengundurkan diri dari perusahaan yang hampir 5 bulan ia jalani karena merasa tidak cocok. (keluar dari pekerjaan)
  14. Jeruji besi adalah tempat untuk orang-orang yang melanggar hukum. (penjara)
  15. Sindi meminta ijin untuk ke belakang ketika bu guru sedang menjelaskan materi. (ke kamar mandi)
  16. Rayhan kegelisahan ketika akan dimutasi kerja pada akhir bulan ini. (dipindah tugaskan)
  17. Tak mengapa jika aku harus menjadi pramusaji, asalkan adik-adikku bisa melanjutkan sekolahnya. (pelayan rumah makan)
  18. Nando diamankan polisi karena menggunakan obat-obatan terlarang. (ditangkap)
  19. Setelah dirawat selama tiga hari, pasien no 10 sudah bisa pulang. (orang sakit)
  20. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. (mayat)

Demikian pembahasan ringkas mengenai majas eufemisme. Semoga bermanfaat.

Baca juga : Majas Ironi

Baca juga artikel dari Pantainesia

Tinggalkan komentar