Seni Arsitektur : Pengertian, Teori, Prinsip, dan Contohnya

Seni arsitektur adalah salah satu bagian dalam bidang konstruksi bangunan. Dalam konsep seni arsitektur, seorang arsitek mengaplikasikan imajinasi dan ilmu mereka dalam proses perancangan sebuah bangunan.

Pengertian seni arsitektur secara umum mencakup proses perancangan hingga pembangunan dari keseluruhan lingkungan termasuk bangunan hingga perencanaan dan perancangan suatu kota.

Teori Seni Arsitektur

Teori Seni Arsitektur
https://unsplash.com/photos/QdAAasrZhdk

Dari pengertian seni arsitektur di atas telah dijelaskan bahwa arsitektur memiliki sebuah cakupan yang sangat luas, baik pada skala mikro maupun makro. Dalam seni arsitektur dikenal beberapa teori, di antaranya:

  • Theory in Architecture. Teori ini menjelaskan bahwa seni arsitektur merupakan pengamatan berbagai aspek mulai dari aspek formal, struktural, tektonik hingga prinsip estetika dalam perancangan arsitektur.
  • Theory of Architecture. Dalam teori ini, pengertian seni arsitektur dijelaskan sebagai pengembangan prinsip para arsitek dalam menggunakan pengetahuannya untuk proses perancangan suatu bangunan.
  • Theory about Architecture. Teori ini menjelaskan seni arsitektur terhadap makna dan pengaruhnya pada konteks sosial dan budaya. Hal ini kemudian menjadikan arsitektur sebagai sebuah produser atas budaya yang diterima oleh masyarakat.

>> Baca juga : Pengertian, Unsur, Fungsi, dan Jenis Seni Rupa

Prinsip Seni Arsitektur

Prinsip Seni Arsitektur
https://unsplash.com/photos/SRjZtxsK3Os

Setidaknya ada tujuh prinsip yang digunakan oleh mereka, berikut prinsip-prinsip seni arsitektur :

1. Proporsi

Dalam dunia arsitektur, proporsi diartikan sebagai kesesuaian dimensi dengan lingkungan sekitar. Dimensi yang dimaksud merupakan dimensi dari berbagai elemen arsitektur yang memiliki fungsi dan berkaitan dengan berbagai aspek.

Aspek arsitektur yang dimaksud antara lain: lokasi, posisi, hingga dimensi obyek yang berlaku pada semua desain arsitektur bangunan di manapun.

2. Irama

Seni arsitektur juga mengenal prinsip irama, yaitu sebuah prinsip dalam menata sebuah elemen arsitektur. Penataan ini harus sesuai dengan prinsip irama agar tercipta sebuah bentuk bangunan yang harmonis.

Elemen-elemen arsitektur yang terlibat ini seperti bentuk, warna, perabotan, hingga dekorasi pada ruangan.

Ada dua jenis irama yang dikenal dalam prinsip irama ini, diantaranya yaitu :

  • Prinsip Irama Statis, merupakan sebuah prinsip pengulangan suatu pola yang sama secara konsisten terus-menerus.
  • Prinsip Irama Dinamis, yakni suatu prinsip pengulangan beberapa aspek dan bervariasi. Contoh aplikasinya terdapat pada pola warna pada bangunan yang berselang-seling.

3. Komposisi

Agar dapat menatap elemen-elemen arsitektur secara keseluruhan, seorang arsitek pasti menggunakan prinsip komposisi. Prinsip ini membuat alur penataan elemen arsitektur secara keseluruhan menjadi lebih nyaman.

Contoh penerapan prinsip ini antara lain penataan denah komposisi ruang atau ketika seorang arsitek menata interior ruang suatu rumah.

Umumnya, arsitek membagi sebuah ruangan menjadi tiga zona, sesuai yang dikenal dalam prinsip komposisi.

Zona pertama yaitu zona publik yang akan digunakan orang dari luar anggota inti penghuni rumah. Zona kedua yaitu privat yang khusus untuk penghuni inti suatu rumah, dan zona service yang peruntukannya untuk perawatan rumah seperti dapur, gudang atau laundry.

4. Keseimbangan

Agar dapat menciptakan sebuah ruangan dengan desain arsitektur yang baik, seorang arsitek wajib menggunakan prinsip keseimbangan.

Dalam prinsip ini dikenal dua jenis keseimbangan, yaitu keseimbangan simetris dan keseimbangan asimetris.

  • Keseimbangan simetris. Jenis keseimbangan ini sangat mudah ditemukan dalam penataan perabot, dekorasi dinding, dan fasad bangunan. Jenis keseimbangan ini akan memberikan visual seakan-akan seperti cermin.
  • Keseimbangan asimetris. Jenis asimetris yang berkebalikan dengan prinsip sebelumnya. Pada jenis keseimbangan ini sangat berisiko karena memerlukan suatu cita rasa seni yang tinggi.

Dalam prinsip keseimbangan asimetris, penataan komponen atau elemen sengaja dilakukan tidak seimbang. Namun, arsitek yang profesional tetap dapat menciptakan suatu desain yang cantik meski menggunakan prinsip ini.

5. Point of Interest

Sama seperti dalam kesenian, arsitektur yang juga mengedepankan keindahan dalam proses perancangan bangunan juga menggunakan prinsip Point of Interest.

Prinsip ini memiliki nama lain prinsip Focal Point. Dalam prinsip ini, seorang arsitek membuat atau menyusun elemen yang kontras. Tujuannya agar elemen tersebut menjadi perhatian utama dalam sebuah desain arsitektur.

Implementasinya bisa sangat bermacam-macam. Salah satu yang paling mudah adalah penggunaan bentuk atau warna suatu elemen pada desain. Contoh penerapan focal point  pada bangunan interior/bangunan bisa Anda temukan di dekadeko. Pada artikel dapur minimalis ada satu contoh focal point yang menarik untuk dicermati.

Penggunaan warna sofa yang kontras di tengah ruangan berwarna putih tentu akan menarik perhatian siapapun yang melihat dan memasuki ruangan tersebut. Elemen pada desain ini bisa berada pada interior atau secara arsitektural keseluruhan.

6. Skala

Dalam proses perancangan suatu bangunan, seorang arsitek juga harus menerapkan prinsip skala. Proses skala ini bertujuan agar bangunan yang diciptakan memiliki ukuran dan desain yang proporsional.

Contoh akibat dari tidak digunakannya prinsip ini dapat dilihat pada sebuah bangunan luas, tetapi langit-langitnya rendah. Dampaknya, ruangan tersebut akan menjadi terasa pengap.

Sebaliknya, penggunaan prinsip ini dapat dilihat pada sebuah ruangan yang luas dan memiliki langit-langit yang tinggi.

Penggunaan prinsip ini pada perancangan ruangan tersebut menyebabkan ruangan atau bangunan tersebut memiliki kesan mewah. Prinsip skala sendiri bisa diartikan sebagai perbandingan dari ruangan dengan berbagai aspek arsitektur lain seperti lingkungan.

7. Kesatuan Desain

Setelah menggunakan prinsip-prinsip di atas, prinsip Kesatuan Desain akan menyempurnakan hasil karya seorang arsitek dalam melakukan perancangan. Sebuah rancang bangunan yang estetis, dengan skala yang tepat dan seimbang, tetapi tidak menyatu, akan menghasilkan bangunan yang tidak harmonis.

Oleh sebab itu, prinsip ini wajib digunakan seorang arsitek dalam melakukan perancangan suatu bangunan.

Dalam membentuk suatu desain ruangan yang komplit , harmonis, dan serasi tidak harus menggunakan elemen-elemen yang berlebihan. Bisa juga dengan penggunaan warna, bentuk, material, pola, atau gaya desain yang spesifik.

Contoh Seni Arsitektur di Indonesia

Contoh Seni Arsitektur di Indonesia
https://unsplash.com/photos/aaWROoqkZqI

Ada beberapa contoh seni arsitektur bangunan yang bisa dilihat di Indonesia. Seperti sudah dijelaskan dalam pengertian seni arsitektur, bahwa arsitektur memiliki lingkup yang sangat luas sehingga dapat mempengaruhi budaya dan sejarah, begitu pula di Indonesia. 

Hal ini kemudian yang menyebabkan Indonesia memiliki ciri arsitektur yang berbeda meski mendapatkan beberapa pengaruh budaya dari daerah lain.

Contoh dari seni arsitektur yang ada di Indonesia di antaranya adalah Candi Prambanan dan Candi Borobudur

Kedua candi ini merupakan bentuk contoh seni arsitektur bangunan khas Indonesia yang mendapatkan pengaruh dari kebudayaan dan agama yang berkembang pada saat itu. Kedua candi tersebut mendapat pengaruh yang berbeda sehingga memiliki bentuk dan corak yang berbeda pula.

Candi Prambanan yang dibangun ketika agama Hindu sedang berkuasa menggunakan corak dan bentuk yang kurus dan tinggi. Bentuk dan corak ini merupakan bukti pengaruh agama Hindu dalam pembangunan candi.

Sebaliknya Candi Borobudur memiliki bentuk yang lebih gendut dan lebar merupakan bukti seni arsitektur yang dipengaruhi oleh agama Budha.

Demikianlah pembahasan mengenai teori, prinsip, dan contoh penerapan seni arsitektur. Semoga bermanfaat!

Baca juga artikel dari Pantainesia

Tinggalkan komentar